setelah gagal dengan cerbung hilang. saya memberanikan diri membuat cerpen lagi awawaw :D
DILARANG COPAS!!! KALIAN BISA BERKAARYA SENDIRI KANN? wkwkwk
okeh langsung saja...
RCL yaaaaaaaaaaaa :*
Goresan pena
Gadis
berambut ikal it uterus menatap satu objek di kelasnya. Objek hidup
yang mampu menyeretnya pada perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan
sebelumnya. Cinta.
Ia terus menatap anak lelaki itu dari tempat
duduknya.sampai kebiasaan buruk si anak lelaki seperti mengupilpun tak
lepas dari pandangannya. Dia memusatkan perhatiannya pada anak lelaki
itu sejak setahun yang lalu.
“kau menyukainya?” Tanya seorang gadis di sebelahnya.
“kau menyukainya miuta?” Tanya gadis itu lagi karena pertanyaan pertamanya tak kunjung mendapat balasan.
“ha? Apa maksudmu?” gadis yang di panggil miuta itu mulai merespon.
“kau menyukai hadippa kan? Ayo mengaku miuta ichikawa! Kau takkan bisa membohongiku.” Paksa gadis mungil di sebelah miuta.
“yuka” ucap miuta lirih.
“kenapa miuta?”
Miuta tak menjawab, ia tak tau harus berkata apa. Kosakkata dalam memori otaknya seakan hilang begitu saja.
“aku
tau miuta, kau menyukai hadippa sudah lama. Aku juga tau kau sakit saat
hadippa dekat dengan gadis lain.” Yuka meracau seolahdia juga merasakan
semua yang miuta rasakan
“sampai kapan kau akan menyembunyikan
perasaanmu darinya? Miuta, kita sudah melewati ujian akhir, waktumu
untuk melihatnya tinggal hitungan hari. Kau yakin akan tetap memendam
perasaanmu itu? Apa kau siap kehilangan hadippa?” yuka terus meracau .
Sementara
miuta, matanya memanas. Hatinya sakit. Dia benar-benar tak tau harus
berbuat apa. Satu sisi dadanya sesak terus memendam perasaan itu. Tapi
disisi lain ia punya rasa malu yang mencegahnya mengungkapkan isi
hatinya pada hadippa.
“setelah ini, belum tentu kau bisa bertemu
dengannya lagi miuta. Kalau aku jadi kau, aku akan mengungkapkannya.
Setidaknya itu akan membuatku lebih lega.” Ucap yuka lirih.
Miuta terisak di sebelahnya. Yuka memeluk miuta iba. Dia tau benar bagaimana perasaan sahabatnya yang amat pemalu itu.
“
aku akan mengatakannya.” Ucap miuta di tengah isak tangisnya. Entah
keberanian darimana, diamengucapkan kalimat itu. Yuka tersenyum
mendengar ucapan saahabatnya.
***
“kenapa mencintaimu harus
sesakit ini hadippa?” miuta bergumam sendiri di depan jendela kamarnya.
Sejak pembicaraan dengan yuka, hatinya semakin kacau. Ia tak tau
bagaimana cara mengungkapkan perasaannya itu pada hadippa. Hari-harinya
terasa begitu cepat berlalu. Dan besok adalah kesempatan terahirnya.
Setelah hari esok, mungkin tak aka nada kesempatan lagi. Tapi sialnya,
miuta belum juga menemukan cara yang pas untuk mengungkapkan isi
hatinya.
“aisshhh!!! Aku harus bagaimana?” dia meremas rambut ikalnya kesal.
Jam
di samping tempat tidurnya telah menunjukkan pukul 23.45, hamper tengah
malam. Tapi rasa kantuk tak sedikitpun menyerangnya. Dia terlalu keras
berfikir. Yang ada diotaknya hanya pertanyaan’bagaimana caranya?’ yang
tak kunjung memperoleh jawaban. Miuta melewati malam ini dengan
peraasaan gelisah, sampai akhirnya dia mulai menyerah.
“kalau aku
tak bisa mengungkapkannya bagaimana? Apa aku harus terus memendam
perasaanku ini dan terus merasakan sesak di dadaku ini kaarena
mencintainya?” miuta bergumam sendiri, air mata perlahan mulai meleleh
di pipi mulusnya yang lama-lama mulai membanjirinya.
Tiba-tiba dia
teringat suatu hal, saat kemarin dia mengadu pada yuka perihal dirinya
yang tak kunjung menemukan cara untuk mengatakan erasaannya pada
hadippa. Yuka hanya bicara dengan santainya;”kau tak perlu susah
payah memikirkan cara. Yang kau butuhkan hanya sedikit keberanian.
Temuilah dia! Dan jadilah dirimu sendiri di depannya! Tak perlu
menggunakan kata jika kau malu. Kau bisa melakukannya dengan cara lain.
Mudah bukan?”
Miuta tersenyum sendiri mengingat pesan
sahabatnya itu. Ide brilian telah terlintas di otaknya. Kegelisahan yang
tadi mendera seakan menguap begitu saja.
***
“miutaa!!”
yuka meneriaki nama miuta saat di halaman sekolah. Miuta menoleh dan
tersentak kaget karena yuka langsung menubruknya. Memeluknya erat seolah
ia takut. Takut tak akan bertemu lagi. Tubuh yuka bergetar hebat,
bahunya naik turun. Ya, dia menangis.
“yuka, kau menangis?” miuta melepas pelukannya.
“miuta,
ini hari pelepasa. Kita akan berpisah.. aku takut kita tak akan bertemu
kembali.” Tutur yuka, air mata membanjiri piipinya.
Miuta ikut menangis setelah mendengar pengakuan yuka.mereka kembali berpelukan, tampang mereka berdua amat menyedihkan.
“kita pasti akan bertemu kembali yuka.” Ucap miuta lirih, yuka tersenyum dan mengangguk pasti.
“bestfriend forever?” Tanya yuka dengan senyum mengembang di wajahnya.
“bestfriend forever.”
“oh
iya miuta, ini kesempatan terahirmu. Ayo aku antar kau menemui
hadippa.” Yuka menyeret miuta tampa meminta persetujuan miuta terlebih
dahulu.
“tunggu yuka!” miuta menghentikan langkah kakinya.
‘ada apa lagi?” Tanya yuka tak sabar.
“tampangku masih sangat menyedihkan, apa aku harus menemiiunya sekarang?”
“sudahlah
miuta, tak ada waktu lagi.” Ucap yuka sedikit kesal. Ia kembali
menyeret miuta. Dua gadis itu berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah
menengah atas itu. Langkah mereka berdua berhenti di depan pintu kelas.
Dada
miuta kembali sesak melihat hadippa yang tengah berfoto ria dengan
gadis-gadis di kelasnya. Yuka menatapnya, dengan senyuman licik ala si
kancil yuka bertanya.
“kau sakit miuta? Tenang saja.. aku akan segera membuat sakitmu berakhir.” Ucapnya pasti.
“hadippa!!”teriaknya,
yang mampu membuat hadippa menoleh. Yuka melambaikan tangannya
mengisyaratkan supaya hadippa mendekat. Dan usahanya itu berhasil.
“kami ingin foto bersama hadippa.’ Ucap yuka semanis mungkin setelah hadippa sampai di hadapannya.
Hadippa membalasnya dengan tersenyum di sertai angggukan kecil.
“ayo
miuta. Berdirilah di samping hadippa, aku yang akan mengambil gambar
kalian!’ perintah yuka. Miuta menurut saja, dia tau sahabatnya itu
memang punya banyak cara untuk mewujudkan keinginannya. Termasuk
keinginannya melihat miuta mengungkapkan isihatinya pada hadippa.
5
jepretan dari kamera di tangan yuka mengahiri semuanya. Hadippa
berbalik badan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan dua gadis di
depannya itu setelah selesai berbasa-basi.
“cepat katakan!” yuka
berbisik di telinga miuta sambil menyiku lengan sahabatnya itu.
Sementara miuta tampak ragu. Akhirnya dengan segenap keberanian yang
tersisa ia memanggil hadippa.
“ng… hadippa!” ucapnya lirih, tapi
masih bisa di dengar oleh hadippa. Anak lelaki itu kembali membalikkan
tubuhnya, menghadap kea rah miuta. Sebelah alisnya terangkat seolah
bertanya ‘ada apa?’. Miuta yang menyadarinya cepat-cepat berkata.
“ng….
anu… boleh aku pinjam tangan hadippa?” Tanya miuta ragu. Hadippa
tersenyum, amat manis sambil mengulurkan tanganna pada miuta. Miuta
mengeluarkan bolpen dari tasnya dan mulai menuliskan kata demi kata di
telapak tangan hadippa.
“terimakasih.” Ucap miuta setelah selesai
mengukir aksara di telapak tangan hadippa, dia kemudian menyeret yuka
yang masih berdiri di sampingnya supaya cepar-cepat menjauh dari
hadippa.
Hadippa menatap kepergian miuta dengan tatapan heran,
setelah itu ia melihat telapak tangannya dan membaca aksara yang
tertulis rapi di sana. ‘maaf, aku malu mengatakannya. Watashiwa anata wa
aishite(aku mencintaimu)’. Hadippa tersenyum simpul membacanya.
***
Miuta bersenandung di hadapan jendela kamarnya. Entahlah, mala mini hatinya terasa lebih lega.
“miuta!
Ada telepon untukmu.” Panggil wanita setengah baya darai luar sana.
Yang tak lain adalah ibu miuta. Miuta segera berlari menuju sumber
suara. Jarang sekali ia mendapat telepon. Yang sering menelponnya hanya
satu orang, yaitu yuka. Tapi jika yuka yang menelpon, ibunya tak akan
berteriak-seperti tadi.
“halo..” ucap miuta setelah gagang telepon menempel sempurna di telinganya.
“ya,
miuta. Apa kabar?” suara seorang anak lelaki di sebrang sana. Miuta
tampak mengerutkan keningnya, tak mengenali suara lawan bicaranya itu.
“baik, maaf kau siapa?”
“aku hadippa”
Diam.
Keduanya saling diam.
Ibu miuta yang sedari tadi menguping di ballik tembok juga diam.
“ng.. anu.. terimakasih miuta.” Ucap hadippa setelah sekian lama hanya diam.
“terimakaasih untuk apa?”
“untuk goresan pena miuta yang indah” jawab hadippa sekenanya. Ia tak tau kalau pipi miuta menjadi merah mendengar jawabannya.
“miuta
pemberani ya? Aku saja tak berani mengungangkapkannya.” Ucap hadippa
lagi, sementara miuta masih diam, tak tau harus berbuat apa.
“aku
juga suka miuta, maaf aku terlalu pengecut tak berani mengungkapkannya.
Malah miuta mendahuluiku. Tapi aku bersyukur miuta mau melakukannya
untukku. Goressan pena ini. Kau tau miuta? Aku tak menghapusnya dari
telapak tanganku.” Tutur hadippa, telapak tangannya ia tempelkan di
dada.
Miuta yang masih terdiam, perlahan air matanya meleleh. Tapi
ini bukanlah air mata derita, ini adalah air mata penuh suka cita.
Miuta sangat sengang, karena ternyata, perasaannya tak bertepuk sebelah
tangan.
Malam ini, hadippa menelponnya. Berbicara panjang lebar
mengenai perasaan itu, perasaan yang amat indah. Perasaan yang mampu
mengalahkan rasa malu di diri miuta. Perasaan yang membawa tangis
bahagia. Cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar