Senin, 16 Februari 2015

cerpen

setelah gagal dengan cerbung hilang. saya memberanikan diri membuat cerpen lagi awawaw :D
DILARANG COPAS!!! KALIAN BISA BERKAARYA SENDIRI KANN? wkwkwk
okeh langsung saja...
RCL yaaaaaaaaaaaa :*




Goresan pena
Gadis berambut ikal it uterus menatap satu objek di kelasnya. Objek hidup yang mampu menyeretnya pada perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Cinta.
Ia terus menatap anak lelaki itu dari tempat duduknya.sampai kebiasaan buruk si anak lelaki seperti mengupilpun tak lepas dari pandangannya. Dia memusatkan perhatiannya pada anak lelaki itu sejak setahun yang lalu.
“kau menyukainya?” Tanya seorang gadis di sebelahnya.
“kau menyukainya miuta?” Tanya gadis itu lagi karena pertanyaan pertamanya tak kunjung mendapat balasan.
“ha? Apa maksudmu?” gadis yang di panggil miuta itu mulai merespon.
“kau menyukai hadippa kan? Ayo mengaku miuta ichikawa! Kau takkan bisa membohongiku.” Paksa gadis mungil di sebelah miuta.
“yuka” ucap miuta lirih.
“kenapa miuta?”
Miuta tak menjawab, ia tak tau harus berkata apa. Kosakkata dalam memori otaknya seakan hilang begitu saja.
“aku tau miuta, kau menyukai hadippa sudah lama. Aku juga tau kau sakit saat hadippa dekat dengan gadis lain.” Yuka meracau seolahdia juga merasakan semua yang miuta rasakan
“sampai kapan kau akan menyembunyikan perasaanmu darinya? Miuta, kita sudah melewati ujian akhir, waktumu untuk melihatnya tinggal hitungan hari. Kau yakin akan tetap memendam perasaanmu itu? Apa kau siap kehilangan hadippa?” yuka terus meracau .
Sementara miuta, matanya memanas. Hatinya sakit. Dia benar-benar tak tau harus berbuat apa. Satu sisi dadanya sesak terus memendam perasaan itu. Tapi disisi lain ia punya rasa malu yang mencegahnya mengungkapkan isi hatinya pada hadippa.
“setelah ini, belum tentu kau bisa bertemu dengannya lagi miuta. Kalau aku jadi kau, aku akan mengungkapkannya. Setidaknya itu akan membuatku lebih lega.” Ucap yuka lirih.
Miuta terisak di sebelahnya. Yuka memeluk miuta iba. Dia tau benar bagaimana perasaan sahabatnya yang amat pemalu itu.
“ aku akan mengatakannya.” Ucap miuta di tengah isak tangisnya. Entah keberanian darimana, diamengucapkan kalimat itu. Yuka tersenyum mendengar ucapan saahabatnya.
***
“kenapa mencintaimu harus sesakit ini hadippa?” miuta bergumam sendiri di depan jendela kamarnya. Sejak pembicaraan dengan yuka, hatinya semakin kacau. Ia tak tau bagaimana cara mengungkapkan perasaannya itu pada hadippa. Hari-harinya terasa begitu cepat berlalu. Dan besok adalah kesempatan terahirnya. Setelah hari esok, mungkin tak aka nada kesempatan lagi. Tapi sialnya, miuta belum juga menemukan cara yang pas untuk mengungkapkan isi hatinya.
“aisshhh!!! Aku harus bagaimana?” dia meremas rambut ikalnya kesal.
Jam di samping tempat tidurnya telah menunjukkan pukul 23.45, hamper tengah malam. Tapi rasa kantuk tak sedikitpun menyerangnya. Dia terlalu keras berfikir. Yang ada diotaknya hanya pertanyaan’bagaimana caranya?’ yang tak kunjung memperoleh jawaban. Miuta melewati malam ini dengan peraasaan gelisah, sampai akhirnya dia mulai menyerah.
“kalau aku tak bisa mengungkapkannya bagaimana? Apa aku harus terus memendam perasaanku ini dan terus merasakan sesak di dadaku ini kaarena mencintainya?” miuta bergumam sendiri, air mata perlahan mulai meleleh di pipi mulusnya yang lama-lama mulai membanjirinya.
Tiba-tiba dia teringat suatu hal, saat kemarin dia mengadu pada yuka perihal dirinya yang tak kunjung menemukan cara untuk mengatakan erasaannya pada hadippa. Yuka hanya bicara dengan santainya;”kau tak perlu susah payah memikirkan cara. Yang kau butuhkan hanya sedikit keberanian. Temuilah dia! Dan jadilah dirimu sendiri di depannya! Tak perlu menggunakan kata jika kau malu. Kau bisa melakukannya dengan cara lain. Mudah bukan?”
Miuta tersenyum sendiri mengingat pesan sahabatnya itu. Ide brilian telah terlintas di otaknya. Kegelisahan yang tadi mendera seakan menguap begitu saja.
***
“miutaa!!” yuka meneriaki nama miuta saat di halaman sekolah. Miuta menoleh dan tersentak kaget karena yuka langsung menubruknya. Memeluknya erat seolah ia takut. Takut tak akan bertemu lagi. Tubuh yuka bergetar hebat, bahunya naik turun. Ya, dia menangis.
“yuka, kau menangis?” miuta melepas pelukannya.
“miuta, ini hari pelepasa. Kita akan berpisah.. aku takut kita tak akan bertemu kembali.” Tutur yuka, air mata membanjiri piipinya.
Miuta ikut menangis setelah mendengar pengakuan yuka.mereka kembali berpelukan, tampang mereka berdua amat menyedihkan.
“kita pasti akan bertemu kembali yuka.” Ucap miuta lirih, yuka tersenyum dan mengangguk pasti.
“bestfriend forever?” Tanya yuka dengan senyum mengembang di wajahnya.
“bestfriend forever.”
“oh iya miuta, ini kesempatan terahirmu. Ayo aku antar kau menemui hadippa.” Yuka menyeret miuta tampa meminta persetujuan miuta terlebih dahulu.
“tunggu yuka!” miuta menghentikan langkah kakinya.
‘ada apa lagi?” Tanya yuka tak sabar.
“tampangku masih sangat menyedihkan, apa aku harus menemiiunya sekarang?”
“sudahlah miuta, tak ada waktu lagi.” Ucap yuka sedikit kesal. Ia kembali menyeret miuta. Dua gadis itu berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah menengah atas itu. Langkah mereka berdua berhenti di depan pintu kelas.
Dada miuta kembali sesak melihat hadippa yang tengah berfoto ria dengan gadis-gadis di kelasnya. Yuka menatapnya, dengan senyuman licik ala si kancil yuka bertanya.
“kau sakit miuta? Tenang saja.. aku akan segera membuat sakitmu berakhir.” Ucapnya pasti.
“hadippa!!”teriaknya, yang mampu membuat hadippa menoleh. Yuka melambaikan tangannya mengisyaratkan supaya hadippa mendekat. Dan usahanya itu berhasil.
“kami ingin foto bersama hadippa.’ Ucap yuka semanis mungkin setelah hadippa sampai di hadapannya.
Hadippa membalasnya dengan tersenyum di sertai angggukan kecil.
“ayo miuta. Berdirilah di samping hadippa, aku yang akan mengambil gambar kalian!’ perintah yuka. Miuta menurut saja, dia tau sahabatnya itu memang punya banyak cara untuk mewujudkan keinginannya. Termasuk keinginannya melihat miuta mengungkapkan isihatinya pada hadippa.
5 jepretan dari kamera di tangan yuka mengahiri semuanya. Hadippa berbalik badan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan dua gadis di depannya itu setelah selesai berbasa-basi.
“cepat katakan!” yuka berbisik di telinga miuta sambil menyiku lengan sahabatnya itu. Sementara miuta tampak ragu. Akhirnya dengan segenap keberanian yang tersisa ia memanggil hadippa.
“ng… hadippa!” ucapnya lirih, tapi masih bisa di dengar oleh hadippa. Anak lelaki itu kembali membalikkan tubuhnya, menghadap kea rah miuta. Sebelah alisnya terangkat seolah bertanya ‘ada apa?’. Miuta yang menyadarinya cepat-cepat berkata.
“ng…. anu… boleh aku pinjam tangan hadippa?” Tanya miuta ragu. Hadippa tersenyum, amat manis sambil mengulurkan tanganna pada miuta. Miuta mengeluarkan bolpen dari tasnya dan mulai menuliskan kata demi kata di telapak tangan hadippa.
“terimakasih.” Ucap miuta setelah selesai mengukir aksara di telapak tangan hadippa, dia kemudian menyeret yuka yang masih berdiri di sampingnya supaya cepar-cepat menjauh dari hadippa.
Hadippa menatap kepergian miuta dengan tatapan heran, setelah itu ia melihat telapak tangannya dan membaca aksara yang tertulis rapi di sana. ‘maaf, aku malu mengatakannya. Watashiwa anata wa aishite(aku mencintaimu)’. Hadippa tersenyum simpul membacanya.
***
Miuta bersenandung di hadapan jendela kamarnya. Entahlah, mala mini hatinya terasa lebih lega.
“miuta! Ada telepon untukmu.” Panggil wanita setengah baya darai luar sana. Yang tak lain adalah ibu miuta. Miuta segera berlari menuju sumber suara. Jarang sekali ia mendapat telepon. Yang sering menelponnya hanya satu orang, yaitu yuka. Tapi jika yuka yang menelpon, ibunya tak akan berteriak-seperti tadi.
“halo..” ucap miuta setelah gagang telepon menempel sempurna di telinganya.
“ya, miuta. Apa kabar?” suara seorang anak lelaki di sebrang sana. Miuta tampak mengerutkan keningnya, tak mengenali suara lawan bicaranya itu.
“baik, maaf kau siapa?”
“aku hadippa”
Diam.
Keduanya saling diam.
Ibu miuta yang sedari tadi menguping di ballik tembok juga diam.
“ng.. anu.. terimakasih miuta.” Ucap hadippa setelah sekian lama hanya diam.
“terimakaasih untuk apa?”
“untuk goresan pena miuta yang indah” jawab hadippa sekenanya. Ia tak tau kalau pipi miuta menjadi merah mendengar jawabannya.
“miuta pemberani ya? Aku saja tak berani mengungangkapkannya.” Ucap hadippa lagi, sementara miuta masih diam, tak tau harus berbuat apa.
“aku juga suka miuta, maaf aku terlalu pengecut tak berani mengungkapkannya. Malah miuta mendahuluiku. Tapi aku bersyukur miuta mau melakukannya untukku. Goressan pena ini. Kau tau miuta? Aku tak menghapusnya dari telapak tanganku.” Tutur hadippa, telapak tangannya ia tempelkan di dada.
Miuta yang masih terdiam, perlahan air matanya meleleh. Tapi ini bukanlah air mata derita, ini adalah air mata penuh suka cita. Miuta sangat sengang, karena ternyata, perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.
Malam ini, hadippa menelponnya. Berbicara panjang lebar mengenai perasaan itu, perasaan yang amat indah. Perasaan yang mampu mengalahkan rasa malu di diri miuta. Perasaan yang membawa tangis bahagia. Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar