Kamis, 02 April 2015

payung bening (cerpen) - NO COPAS!!!


Payung  Bening
Dialah Ziana Elamora, gadis perpaduan Jepang-Indonesia. Dia tumbuh menjadi gadis pecinta hujan yang secara otomatis membuatnya menyukai payung. Ia lahir dan dibesarkan di Indonesia. Payung pertamanya adalah payung bening kado dari mamanya saat ia mulai menjejaki usia 6 tahun.
“mama kenapa akhir-akhir ini hujan terus?” tanyanya polos kepada sang mama
“Indonesia itu punya dua musim sayang, disini Cuma ada musim kemarau dan musim penghujan. Kalau bulan-bulan kemarin itu namanya musim  kemarau, dan sekarang sudah masuk musim penghujan. Dua musim ini berjalan bergantian, masing-masing mendapat jatah 6 bulan untuk memeriahkan bumi kita ini.” Jelas sang mama dengan sabar dan penuh kasih. Sementara ziana memperhatikannya dengan seksama.
“berarti selama 6 bulan kedepan akan hujan terus?”
Sang mama mengangguk mengiyakan.
“kalau begitu aku minta payung mama..” rengek ziana kecil dengan manjanya. Sang mama tersenyum simpul lalu mengangguk.
Esoknya, ziaana merayakan ulang tahunnya yang ke 6, dan mamanya memberinya kado payung bening. Ziana sangat menyayangi payungnya, setiap hari ia membawa payung itu ke sekolah dengan bangga. Dan ia akan berdiri di tengah hujan dengan payung beningnya. Berhenti di tengah jalan dan menengadahkan kepalanya kelangit. Menatap hujan dari balik payung beningnya.
“hujan ini sangat indah Tuhan.” Gumamnya pelan lalu tersenyum puas.
Setelah musim hujan berlalu, ia akan menyimpan payung beningnya di salah satu tempat istimewa di rumahnya. Ya, dia akan menyimpannya di kamar tidurnya.
Kebiasaan ini ia lakukan hingga ia tumbuh dewasa. Sampai saat ini sudah ada beberapa payung bening yang di koleksinya. Kini ziana telah tumbuh menjadi gadis yang anggun. Cantik luar dalam. Cantik hatinya, otaknya, juga tampangnya. Tapi sayang, dia harus meninggalkan Indonesia dan pindah ke Jepang. Melanjutkan sekolah menengah atasnya disana.
“mama yakin akan mengajak zia pindah?” tanyanya ragu saat hendak meenaiki pesawat.
“kau fikir mamamu ini sedang bercanda zi? Kau ini anak yang pandai, di Jepang sana kau bisa lebih maju. Kau dengar itu?” jawab mamanya memastikan.
Ziana Cuma diam. Dan hari itu, jadilah ia terbang ke negeri dimana terdapat bunga sakura yang indah itu, negeri dengan 4 musim. Negeri matahari terbit “JEPANG”.
Perjalanan yang melelahkan seakan terbayar setelah ziana sampai di depan rumahnya. Rumah mungil dengan kombinasi warna putih,di depan pintu utama terdapat anak tangga mungil.  halamannya hijau dilengkapi pohon wepping willow. halaman itu dibatasi pagar putih berbahan kayu setinggi perut orang dewasa. Satu kata, “indah”.
“ini rumah kita ma?” ziana membuka mulutnya setelah sekian lama bungkam untuk bicara.
“iya, ini rumah mendiang oma mu.” Sang mama membuka pagar putih setinggi perut itu, memasuki halaman lalu berjalan menaiki anak tangga mungil dan masuk ke dalam rumah. Ziana membuntutinya dari belakang.
“ pergilah istirahat, kamarmu di sebelah sana.” Sang mama menunjukan pintu di pojok ruangan. Ziana menurut dan tanpa basa-basi membawa koper berisi baju dan barang-barangnya ke ruangan yang di tunjuk sang mama. Ia memasuki ruangan itu dan langsung merasa nyaman dengan kamar tersebut. Tak ada kesulitan dalam beradaptasi dengan rumah barunya. Ia meletakkan koper-koper di samping pintu dan menghempaskan tubuh langsingnya ke ranjang peristirahatan dengan sprei bermotif bunga. Tak butuh waktu lama untuknya agar dapat menjelajah ke alam mimpi.
***
Ziana membuka tirai jendela kamarnya, dari situ Nampak pohon wepping willow yang daunnya berguguran. ‘musim gugur’. Ziana meregangkan otot-ototnya dengan melakukan senam ringan di depan jendela.
“zia.. kau sudah bangun? Cepatlah mandi dan bergegas sarapan ! mama akan mengantarmu ke sekolah.” Teriak sang mama dari luar sana.
“apa? Sekolah?!” ziana tak percaya. Ia berlari menghampiri mamanya diruang makan. “mama tak salah bicara? Apakah disini tidak ada libur sekolah?” tanyanya memastikan.
“ kau ini bagaimana? Ini bukan Indonesia sayang, disini anak-anak seusiamu sudah mulai aktif bersekolah. Liburan sudah lewat di musim panas lalu.” Jelas sang mama. Ziana menunduk lesu, tak ada waktu untuk bersantai.
“mandilah, mama akan mengantarmu jam 7 tepat.” Ucap sang mama lagi.
“apa?! Mama.. kenapa kau begitu kejam? Waktu setengah jam untuk bersiap-siap. Itu sungguh tak mungkin.” Sanggah ziana cepat dengan nada menggerutu.
“menurutlah, setengah jam itu waktu yang lama. Seragam barumu sudah mama siapkan di lemari kamarmu.”
Ziana tak bisa membantah, ia hanya mendengus kesal. Tanpa banyak bicara, dia menjalankan semua perintah mamanya.
“mamaaa!” teriakan ziana kembali terdengar. Sang mama dengan ogah-ogahan berjalan menemui putri tunggalnya.
“ kenapa seragamnya seperti ini? Rok ini terlalu pendek mama! Kakiku tak sejenjang kaki anak-anak jepang. Apalagi betisku ini. Pasti akan sangat aneh.” Teriak ziana lagi setelah melihat kepala mamanya nongol di balik pintu.
“sudahlah sayang.. kau cantik. Berhentilah berteriak. Sekarang sudah jam 7, tak ada lagi waktu untuk menanggapi semua protesmu. Ayo kita berangkat!” jawab mamanya pelan lalu pergi meninggalkan ziana  dikamaarnya.
Ziana kembali mendengus, terpaksa ia memakai seragam barunya, memasang sepatunya dan berlari secepat mungkin mengejar mamanya.
Ia di masukkan di salah satu sekolah favorit di negeri matahari terbit itu. Setelah mengurus segala persyaratan dan administrasi, ziana digiring kesalah satu kelas. Guru yang saaat itu tengah mengajar menyuruhnya memperkenalkan diri.
“hajimemashite watashiwa Ziana Elamora desu, dozooyoroushiku onegaishimasu.” (perkenalkan nama saya Ziana Elamora, mohon bimbingannya). Kemudian ia agak membungkukkan badannya layaknya orang-orang jepang. Ziana beruntung, ia takkan kesulitan untuk menggunakan bahasa jepang. Karena saat di Indonesia ia sudah terbiasa bercakap-cakap dengaan ayahnya menggunakan bahasa jepang.
“hai, aku heiji.: salah seorang anak lelaki yang duduk tak jauh darinya mengulurkan tangan.
“ziana,”
“zia_chan, nama yang cantik.” Ucap anak lelaki itu. Anak lelaki itulah yang kemudian menjadi teman akrab ziana. Mereka mudah di persatukan dalam berbagai hal, karena menreka memiliki banyak kesamaan.
Saat istirahat, anak-anak lain banyak yang menyalaminya. Ternyata mereka semua mudah bersahabat dengan orang asing. Kecuali satu anak yang duduk di pojokkan kelas. Anak perempuan dengan rambut pirangnya yang ikal, dibiarkan tergerai menutupi punggungnya. Bibirnya tipis berwarna merah jambu. Manis, tapi agak sadis.
“heiji!” panggil ziana. Tangannya mengisyaratkan supaya heiji mendekat.
“ada apa zia_chan?”
“kau tahu anak perempuan itu? Kenapa dia seperti tak menyukaiku?” Tanya ziana setengah berbisik.
Heiji dengan tampang soknya mulai menjelaskan. “dia itu Ayumi Hamasaki, dia memang begitu pada semua orang, tak usah terlalu difikirkan.”
“benarkah?”
Heiji mengangguk mantap.
“hei, apa kau tak ingin jalan-jalan zia_chan?” heiji menarik lengan ziana, mengajaknya pergi meninggalkan kelas.
Sementara di pojok ruangan, ayumi hamasaki menatap kepergian mereka dengan tatapan sinisnya.
“kau akan mengajakku kemana heiji?” ziana mulai bosan. Ia tak suka di permainkan. Heiji dari tadi hanya mengajaknya menaiki anak tangga dan membuatnya kelelahan. Pertanyaan tadi adalah pertanyaan ke 15 yang ia ajukan, tapi tak kunjung mendapat jawaban.
“bersabarlah zia_chan. Sebentar lagi kita sampai.” Kalimat itulah yang akhirnya keluar dari mulut heiji.
Ziana tak bisa membantah, ia hanya diam dan memaksa kakinya untuk terus menaiki anak tangga walau sebenarnya ia sudah amat kelelahan.
“taraaaaaaaaa!” teriak heiji dengan rinangnya setelah melewati anak tangga terakhir. Ekspresi riangnya hilang seketika setelah melihat wajah ziana yang Nampak biasa-biasa saja. Tak ada sedikitpun garis muka yang menggambarkan dia senagn,atau terpesona tepatnya.
“zia_chan, kau tak suka tempat ini?” tanyanya agak ragu.
Ziana menggeleng. “kau fikir apa istimewanya atap sekolah seperti ini? Menguras tenaga saja, dan membuang-buang waktu.”
“ayolah zia_chan.. lihatlah pemandangan di sebelah sana! Apa kau sama sekali tak menyukainya?” heiji mengarahkan telunjuknya ke satu titik, dan ziana mengikuti arahannya. Matanya berbinar seketika.
“heiji_kun.!!!! Itu indah sekali !!!!!!” teriak ziana girang setelah melihat wepping willow yang merapat membentuk semacam permadani kuning kecoklatan yang indah jika dilihat dari atap gedung.
“akhirnya… kau suka..” gumam heiji lega. Ia tersenyum puas, pendekatan awal dengan ziana si anak baru berjalan lancar. Tak bisa di pungkiri, heiji terpesona dengan ziana. Zia_channya yang amat manis.
***
Tak terasa, bulan demi bulan telah ziana lalui di negeri ayahnya. Ia menjadi salah satu anak keturunan Indonesia yang terpandang karena kepandaiannya. Pertengahan musim gugur lalu, ia mengikuti seleksi untuk mendapatkan beasiswa. Dari ratusan anak yang berprestasi, ziana berhasil menjadi pemilik beasiswa tersebut. Segalanya terasa begitu indah baginya, kemudahan demi kemudahan selalu menghampirinya. Hubungannya dengan heiji dan murid yang lain juga baik. Hanya satu hal yang tak dapat ia rubah, Ayumi Hamasaki. Ya, ziana tak dapat meluluhkan gadis itu. Berbagai cara telah ia coba, tapi ayumi hamasaki masih tetap menjadi gadis manis dengan tatapan sinis.
“aaaaaaa!!!!” ziana berteriak histeris, buku-buku yang di bawanya berserakan dilantai. Sementara ziana masih mematung di hadapan lokernya. Wajahnya pucat pasi, tegang,takut, semua tergambar jelas di garis-garis mukanya.
“ada apa zia_chan? Teriakanmu amat keras. Aku sampai berhenti berjalan di koridor sana.” Ucap heiji pelan sambil berjalan mendekati ziana.
“heiji” ucap ziana lemah. Tubuhnya bergetar hebat, dan air matanya perlahan mulai berjatuhan.
Heiji mendekat dan memeluknya menenangkan.”kau kenapa?” tanyanya lagi. Ziana masih menangis. Tangannya menunjuk kearah loker. Mata heiji terbelalak menatap isi loker ziana. ‘bangkai kucing anggora’ tergeletak disana. Heiji melepas pelukannya dan mendekat kearah loker. Ia mengambil secarik kertas berlumuran darah yang tergeletak di samping bangkai itu.
“gadis manis, kau akan mengalami nasib yang sama dengan kucing manis ini.” Heiji membaca pelan tulisan yang tertera di kertas itu. Wajah ziana semakin pucat mendengarnya.
“heiji, apa aku akan mati?”
Heiji menatap ziana prihatin lalu mendekapnya, “bukan hanya kau zia_chan. Tapi kita semua. Kita semua akan mati. Karena setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati.” Heiji mencoba menenangkan, sementara ziana hanya terdiam. Tapi wajahnya menampakkan rasa ketakutan yang teramat.
Ziana hampir saja tak mau sekolah karena terror terhadap dirinya terus berlanjut. Malam tadi, dia mendapat pesan singkat dari nomor tak di kenal yang membuatnya tak bisa tidur. Isi pesan itu sangat mengerikan. Orang tersebut mengatakan “ bersiaplah, ajalmu sudah dekat manis..” dan pagi ini, ziana menolak ajakan mamanya untuk pergi kesekolah. Sampai heiji menjemputnya.
“zia_chan, ini awal musim dingin, apa kau tak ingin melihat salju? Di Indonesia sana tak ada salju bukan?” rayu heiji, awalnya ziana tetap menolak. Tetapi setelah mendengar berbagai cerita heiji tentang indahnya musim dingin ia jadi penasaran. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.
Akhirnya ziana tetap sekolah hari itu, ia berangkat bersama heiji. Berjalan di tengah hujan salju dengan payung bening yang telah lama tak ia gunakan. Ziana terlihat begitu riang. Ia menceritakan kisahnya tentang payung bening yang sangat ia sayangi kepada heiji. Rasa takutnya benar-benar telah lenyap.
***
“heiji!!” ziana berlari ke aarah heiji sambil menangis. Heiji dengan wajah bloonnya kembali bertanya “kenapa?” ia tak habis fikir dengan ziana. Mereka baru sampai di kelas, dan ia baru saja merasakan nyamannya duduk di kursinya. Tapi ziana kembali menangis histeris dihadapannya.
“mejaku heiji.” Hanya kata itu yang mampu ziana ucapkan sebelum akhirnya dia ambruk. Pingsan. Semua penghuni kelas berbondong-bondong menggotong ziana ke ruang kesehatan.
“waktumu tinggal 11 jam lagi gadis manis, bersiaplah!” begitulah kalimat yang tertulis di meja ziana. Kalimat itu di tulis dengan lipstick merah muda, sehingga tampak jelas sekali dengan baground putih dari meja ziana. Heiji menatap meja ziana lagi, kemudian  menoleh ke pojok kelas. Menatap ayumi hamasaki yang memandangnya dengan tatapan benci. Hanya ayumi satu-satunya siswi yang tak berusaha untuk menolong ziana saat dia pingsan.
“aku mau pulang heiji..sekolah ini tak aman untukku!” teriak ziana setelah siuman. Ia seperti orang yang sudah hilang akal. Ketakutannya terlalu besar.
“tenanglah zia_chan. Tunggu sampai bel pulang berbunyi. Kau aman disini, aku akan menjagamu. Dan aku akan meminta bantuan temanku untuk mencari siapa pelaku yang menerormu.” Bujuk heiji. Ziana mengangguk. Wajahnya benar-benar pucat saat itu.
“bukankah itu ayumi_san heiji? Mengapa ia ada di sini?” Tanya ziana pelan. Matanya menatap kea rah jendela. “heiji_kun, aku takut.. tatapannya mengerikan.” Ziana menutup mukanya dengan bantal.
“tenanglah zia_chan, aku ada di sini..” hibur heiji.
Ziana diam, masih menutup matanya dengan bantal. Suasana di ruang kesehatan itu begitu sunyi, yang terdengar hanya detak jarum jam.
“kau akan mati!kau akan mati!kau akan mati!” suara gadis yang amat manis itu menghancurkan ketenangan yang ada.
“heiji itu suara siapa?” Tanya ziana panic diikuti gelengan kepala heiji yang menandakan ia tidak tahu.
“aku rasa suara itu berasal dari saku mu”
Ziana terdiam. Ia merogoh saku bajunya, mengambil telepon selularnya dan benar saja. Ada panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.
‘siapa yang mengganti ringtone Hp ku?”Tanya ziana lagi dan heiji hanya menggeleng.
“heiji.. pokoknya aku mau pulang! Aku tak aman disini!” teriak ziana. Ia berlari keluar ruang kesehatan.
“tunggu zia_chan, aku akan mengantarmu!”heiji mengejar ziana sampai keruang loker. Mengambilkan payung untuk ziana dan membukakan payung itu setelah sampai di pintu utama.
“tunggu zia_chan, aku akan mengambilkan tas mu. Kau berjalanlah dulu, aku akan menyusul.” Ucap heiji cepat lalu berlari meninggalkan ziana.
Ziana berjalan keluar melewati pintu utama, tetesan salju pertama membasahi payungnya dan DUARRRRR!!! Ledakan yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menghilangkan satu nyawa terjadi detik itu juga.
Heiji menghentikan langkahnya dan berbalik kea rah pintu utama. Semua siswa gaduh, mencoba mencari tahu apa yang terjadi dari balik jendela. Tak sedikit pula yang langsung menghambur ke pintu utama.
Hari itu, musim dingin pertama dan terakhir yang dialami ziana. Dia benar-benar mengalami ajalnya. 8jam lebih cepat dari pesan yang tertulis di mejanya.
“kau yang melakukannya?” Tanya ayumi hamasaki pada heiji yang masih mematung di tempatnya. “kau menerornya sehingga ia ketakutan dan meminta pulang lebih cepat. Sementara kau meletakkan bongkahan natrium di atas payungnya. Natrium itu bereaksi dengan lelehan salju kemudian meledak. Kau melakukannya dengan sempurna. Sehingga tidak memakan banyak korban. Hanya ziana elamora dan beberapa bagian pintu uatama yang terkena ledakan. Kau cerdas heiji_kun.  Tadinya aku akan menyelamatkannya, tapi kau begitu waspada menjaga mangsamu di ruang kesehatan.” Ayumi hamasaki mengungkapkan hipotesanya yang 100% benar. “apa kau tak menyesal telah membunuh gadis semanis ziana elamora?” Tanya ayumi lagi.
“dia memang manis, aku menyukainya. Tapi dia telah menghancurkan hidupku. Kalau saja dia tak menjdapat beasiswa itu, aku tak akan melakukan ini semua. Gara-gara dia mendapatkan beasiswa yang seharusnya jatuh ketanganku itu, hidupku jadi menderita, aku harus bekerja keras untuk tetap bisa bersekolah. Dia orang kaya,ayahnya pengusaha, tidak sepertiku yang untuk makan saja susah. Tapi sekarang dia telah mati, dan beasiswa itu otomatis akan jatuh padaku selaku anak terpandai setelahnya.” Heiji tersenyum getir mengucapkan kalimat itu. Entah mengapa hatinya justru terasa sesak setelah ia menjalankan misinya dengan baik.
“aku yakin kau takkan bahagia.” Ucap ayumi sinis lalu pergi meninggalkan heiji.
Heiji diam, kata-kata ayumi terngiang-ngiang di gendang telinganya. Ia memang tak akan bahagia karena di lubuk hatinya , ia mencintai ziana. Zia_channya yang amat manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar