Payung Bening
Dialah
Ziana Elamora, gadis perpaduan Jepang-Indonesia. Dia tumbuh menjadi gadis
pecinta hujan yang secara otomatis membuatnya menyukai payung. Ia lahir dan
dibesarkan di Indonesia. Payung pertamanya adalah payung bening kado dari
mamanya saat ia mulai menjejaki usia 6 tahun.
“mama
kenapa akhir-akhir ini hujan terus?” tanyanya polos kepada sang mama
“Indonesia
itu punya dua musim sayang, disini Cuma ada musim kemarau dan musim penghujan.
Kalau bulan-bulan kemarin itu namanya musim
kemarau, dan sekarang sudah masuk musim penghujan. Dua musim ini
berjalan bergantian, masing-masing mendapat jatah 6 bulan untuk memeriahkan
bumi kita ini.” Jelas sang mama dengan sabar dan penuh kasih. Sementara ziana
memperhatikannya dengan seksama.
“berarti
selama 6 bulan kedepan akan hujan terus?”
Sang
mama mengangguk mengiyakan.
“kalau
begitu aku minta payung mama..” rengek ziana kecil dengan manjanya. Sang mama
tersenyum simpul lalu mengangguk.
Esoknya,
ziaana merayakan ulang tahunnya yang ke 6, dan mamanya memberinya kado payung
bening. Ziana sangat menyayangi payungnya, setiap hari ia membawa payung itu ke
sekolah dengan bangga. Dan ia akan berdiri di tengah hujan dengan payung
beningnya. Berhenti di tengah jalan dan menengadahkan kepalanya kelangit.
Menatap hujan dari balik payung beningnya.
“hujan
ini sangat indah Tuhan.” Gumamnya pelan lalu tersenyum puas.
Setelah
musim hujan berlalu, ia akan menyimpan payung beningnya di salah satu tempat
istimewa di rumahnya. Ya, dia akan menyimpannya di kamar tidurnya.
Kebiasaan
ini ia lakukan hingga ia tumbuh dewasa. Sampai saat ini sudah ada beberapa
payung bening yang di koleksinya. Kini ziana telah tumbuh menjadi gadis yang anggun.
Cantik luar dalam. Cantik hatinya, otaknya, juga tampangnya. Tapi sayang, dia
harus meninggalkan Indonesia dan pindah ke Jepang. Melanjutkan sekolah menengah
atasnya disana.
“mama
yakin akan mengajak zia pindah?” tanyanya ragu saat hendak meenaiki pesawat.
“kau
fikir mamamu ini sedang bercanda zi? Kau ini anak yang pandai, di Jepang sana
kau bisa lebih maju. Kau dengar itu?” jawab mamanya memastikan.
Ziana
Cuma diam. Dan hari itu, jadilah ia terbang ke negeri dimana terdapat bunga
sakura yang indah itu, negeri dengan 4 musim. Negeri matahari terbit “JEPANG”.
Perjalanan
yang melelahkan seakan terbayar setelah ziana sampai di depan rumahnya. Rumah
mungil dengan kombinasi warna putih,di depan pintu utama terdapat anak tangga
mungil. halamannya hijau dilengkapi
pohon wepping willow.
halaman itu dibatasi pagar putih berbahan kayu setinggi perut orang dewasa.
Satu kata, “indah”.
“ini
rumah kita ma?” ziana membuka mulutnya setelah sekian lama bungkam untuk
bicara.
“iya,
ini rumah mendiang oma mu.” Sang mama membuka pagar putih setinggi perut itu,
memasuki halaman lalu berjalan menaiki anak tangga mungil dan masuk ke dalam
rumah. Ziana membuntutinya dari belakang.
“
pergilah istirahat, kamarmu di sebelah sana.” Sang mama menunjukan pintu di
pojok ruangan. Ziana menurut dan tanpa basa-basi membawa koper berisi baju dan
barang-barangnya ke ruangan yang di tunjuk sang mama. Ia memasuki ruangan itu
dan langsung merasa nyaman dengan kamar tersebut. Tak ada kesulitan dalam
beradaptasi dengan rumah barunya. Ia meletakkan koper-koper di samping pintu
dan menghempaskan tubuh langsingnya ke ranjang peristirahatan dengan sprei
bermotif bunga. Tak butuh waktu lama untuknya agar dapat menjelajah ke alam
mimpi.
***
Ziana
membuka tirai jendela kamarnya, dari situ Nampak pohon wepping willow yang daunnya berguguran.
‘musim gugur’.
Ziana meregangkan otot-ototnya dengan melakukan senam ringan di depan jendela.
“zia..
kau sudah bangun? Cepatlah mandi dan bergegas sarapan ! mama akan mengantarmu
ke sekolah.” Teriak sang mama dari luar sana.
“apa?
Sekolah?!” ziana tak percaya. Ia berlari menghampiri mamanya diruang makan.
“mama tak salah bicara? Apakah disini tidak ada libur sekolah?” tanyanya
memastikan.
“
kau ini bagaimana? Ini bukan Indonesia sayang, disini anak-anak seusiamu sudah
mulai aktif bersekolah. Liburan sudah lewat di musim panas lalu.” Jelas sang
mama. Ziana menunduk lesu, tak ada waktu untuk bersantai.
“mandilah,
mama akan mengantarmu jam 7 tepat.” Ucap sang mama lagi.
“apa?!
Mama.. kenapa kau begitu kejam? Waktu setengah jam untuk bersiap-siap. Itu
sungguh tak mungkin.” Sanggah ziana cepat dengan nada menggerutu.
“menurutlah,
setengah jam itu waktu yang lama. Seragam barumu sudah mama siapkan di lemari kamarmu.”
Ziana
tak bisa membantah, ia hanya mendengus kesal. Tanpa banyak bicara, dia
menjalankan semua perintah mamanya.
“mamaaa!”
teriakan ziana kembali terdengar. Sang mama dengan ogah-ogahan berjalan menemui
putri tunggalnya.
“
kenapa seragamnya seperti ini? Rok ini terlalu pendek mama! Kakiku tak
sejenjang kaki anak-anak jepang. Apalagi betisku ini. Pasti akan sangat aneh.”
Teriak ziana lagi setelah melihat kepala mamanya nongol di balik pintu.
“sudahlah
sayang.. kau cantik. Berhentilah berteriak. Sekarang sudah jam 7, tak ada lagi
waktu untuk menanggapi semua protesmu. Ayo kita berangkat!” jawab mamanya pelan
lalu pergi meninggalkan ziana
dikamaarnya.
Ziana
kembali mendengus, terpaksa ia memakai seragam barunya, memasang sepatunya dan
berlari secepat mungkin mengejar mamanya.
Ia
di masukkan di salah satu sekolah favorit di negeri matahari terbit itu.
Setelah mengurus segala persyaratan dan administrasi, ziana digiring kesalah
satu kelas. Guru yang saaat itu tengah mengajar menyuruhnya memperkenalkan diri.
“hajimemashite
watashiwa Ziana Elamora desu, dozooyoroushiku onegaishimasu.” (perkenalkan nama
saya Ziana Elamora, mohon bimbingannya). Kemudian ia agak membungkukkan
badannya layaknya orang-orang jepang. Ziana beruntung, ia takkan kesulitan
untuk menggunakan bahasa jepang. Karena saat di Indonesia ia sudah terbiasa
bercakap-cakap dengaan ayahnya menggunakan bahasa jepang.
“hai,
aku heiji.: salah seorang anak lelaki yang duduk tak jauh darinya mengulurkan
tangan.
“ziana,”
“zia_chan,
nama yang cantik.” Ucap anak lelaki itu. Anak lelaki itulah yang kemudian
menjadi teman akrab ziana. Mereka mudah di persatukan dalam berbagai hal,
karena menreka memiliki banyak kesamaan.
Saat
istirahat, anak-anak lain banyak yang menyalaminya. Ternyata mereka semua mudah
bersahabat dengan orang asing. Kecuali satu anak yang duduk di pojokkan kelas.
Anak perempuan dengan rambut pirangnya yang ikal, dibiarkan tergerai menutupi
punggungnya. Bibirnya tipis berwarna merah jambu. Manis, tapi agak sadis.
“heiji!”
panggil ziana. Tangannya mengisyaratkan supaya heiji mendekat.
“ada
apa zia_chan?”
“kau
tahu anak perempuan itu? Kenapa dia seperti tak menyukaiku?” Tanya ziana
setengah berbisik.
Heiji
dengan tampang soknya mulai menjelaskan. “dia itu Ayumi Hamasaki, dia memang
begitu pada semua orang, tak usah terlalu difikirkan.”
“benarkah?”
Heiji
mengangguk mantap.
“hei,
apa kau tak ingin jalan-jalan zia_chan?” heiji menarik lengan ziana,
mengajaknya pergi meninggalkan kelas.
Sementara
di pojok ruangan, ayumi hamasaki menatap kepergian mereka dengan tatapan
sinisnya.
“kau
akan mengajakku kemana heiji?” ziana mulai bosan. Ia tak suka di permainkan.
Heiji dari tadi hanya mengajaknya menaiki anak tangga dan membuatnya kelelahan.
Pertanyaan tadi adalah pertanyaan ke 15 yang ia ajukan, tapi tak kunjung
mendapat jawaban.
“bersabarlah
zia_chan. Sebentar lagi kita sampai.” Kalimat itulah yang akhirnya keluar dari
mulut heiji.
Ziana
tak bisa membantah, ia hanya diam dan memaksa kakinya untuk terus menaiki anak
tangga walau sebenarnya ia sudah amat kelelahan.
“taraaaaaaaaa!”
teriak heiji dengan rinangnya setelah melewati anak tangga terakhir. Ekspresi
riangnya hilang seketika setelah melihat wajah ziana yang Nampak biasa-biasa
saja. Tak ada sedikitpun garis muka yang menggambarkan dia senagn,atau terpesona
tepatnya.
“zia_chan,
kau tak suka tempat ini?” tanyanya agak ragu.
Ziana
menggeleng. “kau fikir apa istimewanya atap sekolah seperti ini? Menguras
tenaga saja, dan membuang-buang waktu.”
“ayolah
zia_chan.. lihatlah pemandangan di sebelah sana! Apa kau sama sekali tak
menyukainya?” heiji mengarahkan telunjuknya ke satu titik, dan ziana mengikuti
arahannya. Matanya berbinar seketika.
“heiji_kun.!!!!
Itu indah sekali !!!!!!” teriak ziana girang setelah melihat wepping willow
yang merapat membentuk semacam permadani kuning kecoklatan yang indah jika
dilihat dari atap gedung.
“akhirnya…
kau suka..” gumam heiji lega. Ia tersenyum puas, pendekatan awal dengan ziana
si anak baru berjalan lancar. Tak bisa di pungkiri, heiji terpesona dengan
ziana. Zia_channya yang amat manis.
***
Tak
terasa, bulan demi bulan telah ziana lalui di negeri ayahnya. Ia menjadi salah
satu anak keturunan Indonesia yang terpandang karena kepandaiannya. Pertengahan
musim gugur lalu, ia mengikuti seleksi untuk mendapatkan beasiswa. Dari ratusan
anak yang berprestasi, ziana berhasil menjadi pemilik beasiswa tersebut.
Segalanya terasa begitu indah baginya, kemudahan demi kemudahan selalu
menghampirinya. Hubungannya dengan heiji dan murid yang lain juga baik. Hanya
satu hal yang tak dapat ia rubah, Ayumi Hamasaki. Ya, ziana tak dapat
meluluhkan gadis itu. Berbagai cara telah ia coba, tapi ayumi hamasaki masih
tetap menjadi gadis manis dengan tatapan sinis.
“aaaaaaa!!!!”
ziana berteriak histeris, buku-buku yang di bawanya berserakan dilantai.
Sementara ziana masih mematung di hadapan lokernya. Wajahnya pucat pasi,
tegang,takut, semua tergambar jelas di garis-garis mukanya.
“ada
apa zia_chan? Teriakanmu amat keras. Aku sampai berhenti berjalan di koridor
sana.” Ucap heiji pelan sambil berjalan mendekati ziana.
“heiji”
ucap ziana lemah. Tubuhnya bergetar hebat, dan air matanya perlahan mulai
berjatuhan.
Heiji
mendekat dan memeluknya menenangkan.”kau kenapa?” tanyanya lagi. Ziana masih menangis.
Tangannya menunjuk kearah loker. Mata heiji terbelalak menatap isi loker ziana.
‘bangkai kucing anggora’ tergeletak disana. Heiji melepas pelukannya dan mendekat
kearah loker. Ia mengambil secarik kertas berlumuran darah yang tergeletak di
samping bangkai itu.
“gadis
manis, kau akan mengalami nasib yang sama dengan kucing manis ini.” Heiji
membaca pelan tulisan yang tertera di kertas itu. Wajah ziana semakin pucat
mendengarnya.
“heiji,
apa aku akan mati?”
Heiji
menatap ziana prihatin lalu mendekapnya, “bukan hanya kau zia_chan. Tapi kita
semua. Kita semua akan mati. Karena setiap yang bernyawa pasti akan mengalami
mati.” Heiji mencoba menenangkan, sementara ziana hanya terdiam. Tapi wajahnya
menampakkan rasa ketakutan yang teramat.
Ziana
hampir saja tak mau sekolah karena terror terhadap dirinya terus berlanjut. Malam
tadi, dia mendapat pesan singkat dari nomor tak di kenal yang membuatnya tak
bisa tidur. Isi pesan itu sangat mengerikan. Orang tersebut mengatakan “
bersiaplah, ajalmu sudah dekat manis..” dan pagi ini, ziana menolak ajakan
mamanya untuk pergi kesekolah. Sampai heiji menjemputnya.
“zia_chan,
ini awal musim dingin, apa kau tak ingin melihat salju? Di Indonesia sana tak
ada salju bukan?” rayu heiji, awalnya ziana tetap menolak. Tetapi setelah
mendengar berbagai cerita heiji tentang indahnya musim dingin ia jadi
penasaran. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.
Akhirnya
ziana tetap sekolah hari itu, ia berangkat bersama heiji. Berjalan di tengah
hujan salju dengan payung bening yang telah lama tak ia gunakan. Ziana terlihat
begitu riang. Ia menceritakan kisahnya tentang payung bening yang sangat ia
sayangi kepada heiji. Rasa takutnya benar-benar telah lenyap.
***
“heiji!!”
ziana berlari ke aarah heiji sambil menangis. Heiji dengan wajah bloonnya
kembali bertanya “kenapa?” ia tak habis fikir dengan ziana. Mereka baru sampai
di kelas, dan ia baru saja merasakan nyamannya duduk di kursinya. Tapi ziana
kembali menangis histeris dihadapannya.
“mejaku
heiji.” Hanya kata itu yang mampu ziana ucapkan sebelum akhirnya dia ambruk.
Pingsan. Semua penghuni kelas berbondong-bondong menggotong ziana ke ruang
kesehatan.
“waktumu
tinggal 11 jam lagi gadis manis, bersiaplah!” begitulah kalimat yang tertulis
di meja ziana. Kalimat itu di tulis dengan lipstick merah muda, sehingga tampak
jelas sekali dengan baground putih dari meja ziana. Heiji menatap meja ziana
lagi, kemudian menoleh ke pojok kelas.
Menatap ayumi hamasaki yang memandangnya dengan tatapan benci. Hanya ayumi
satu-satunya siswi yang tak berusaha untuk menolong ziana saat dia pingsan.
“aku
mau pulang heiji..sekolah ini tak aman untukku!” teriak ziana setelah siuman.
Ia seperti orang yang sudah hilang akal. Ketakutannya terlalu besar.
“tenanglah
zia_chan. Tunggu sampai bel pulang berbunyi. Kau aman disini, aku akan
menjagamu. Dan aku akan meminta bantuan temanku untuk mencari siapa pelaku yang
menerormu.” Bujuk heiji. Ziana mengangguk. Wajahnya benar-benar pucat saat itu.
“bukankah
itu ayumi_san heiji? Mengapa ia ada di sini?” Tanya ziana pelan. Matanya
menatap kea rah jendela. “heiji_kun, aku takut.. tatapannya mengerikan.” Ziana
menutup mukanya dengan bantal.
“tenanglah
zia_chan, aku ada di sini..” hibur heiji.
Ziana
diam, masih menutup matanya dengan bantal. Suasana di ruang kesehatan itu
begitu sunyi, yang terdengar hanya detak jarum jam.
“kau
akan mati!kau akan mati!kau akan mati!” suara gadis yang amat manis itu
menghancurkan ketenangan yang ada.
“heiji
itu suara siapa?” Tanya ziana panic diikuti gelengan kepala heiji yang
menandakan ia tidak tahu.
“aku
rasa suara itu berasal dari saku mu”
Ziana
terdiam. Ia merogoh saku bajunya, mengambil telepon selularnya dan benar saja.
Ada panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.
‘siapa
yang mengganti ringtone Hp ku?”Tanya ziana lagi dan heiji hanya menggeleng.
“heiji..
pokoknya aku mau pulang! Aku tak aman disini!” teriak ziana. Ia berlari keluar
ruang kesehatan.
“tunggu
zia_chan, aku akan mengantarmu!”heiji mengejar ziana sampai keruang loker.
Mengambilkan payung untuk ziana dan membukakan payung itu setelah sampai di
pintu utama.
“tunggu
zia_chan, aku akan mengambilkan tas mu. Kau berjalanlah dulu, aku akan
menyusul.” Ucap heiji cepat lalu berlari meninggalkan ziana.
Ziana
berjalan keluar melewati pintu utama, tetesan salju pertama membasahi payungnya
dan DUARRRRR!!! Ledakan yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk
menghilangkan satu nyawa terjadi detik itu juga.
Heiji
menghentikan langkahnya dan berbalik kea rah pintu utama. Semua siswa gaduh,
mencoba mencari tahu apa yang terjadi dari balik jendela. Tak sedikit pula yang
langsung menghambur ke pintu utama.
Hari
itu, musim dingin pertama dan terakhir yang dialami ziana. Dia benar-benar
mengalami ajalnya. 8jam lebih cepat dari pesan yang tertulis di mejanya.
“kau
yang melakukannya?” Tanya ayumi hamasaki pada heiji yang masih mematung di
tempatnya. “kau menerornya sehingga ia ketakutan dan meminta pulang lebih cepat.
Sementara kau meletakkan bongkahan natrium di atas payungnya. Natrium itu
bereaksi dengan lelehan salju kemudian meledak. Kau melakukannya dengan
sempurna. Sehingga tidak memakan banyak korban. Hanya ziana elamora dan
beberapa bagian pintu uatama yang terkena ledakan. Kau cerdas heiji_kun. Tadinya aku akan menyelamatkannya, tapi kau
begitu waspada menjaga mangsamu di ruang kesehatan.” Ayumi hamasaki mengungkapkan
hipotesanya yang 100% benar. “apa kau tak menyesal telah membunuh gadis semanis
ziana elamora?” Tanya ayumi lagi.
“dia
memang manis, aku menyukainya. Tapi dia telah menghancurkan hidupku. Kalau saja
dia tak menjdapat beasiswa itu, aku tak akan melakukan ini semua. Gara-gara dia
mendapatkan beasiswa yang seharusnya jatuh ketanganku itu, hidupku jadi
menderita, aku harus bekerja keras untuk tetap bisa bersekolah. Dia orang
kaya,ayahnya pengusaha, tidak sepertiku yang untuk makan saja susah. Tapi
sekarang dia telah mati, dan beasiswa itu otomatis akan jatuh padaku selaku
anak terpandai setelahnya.” Heiji tersenyum getir mengucapkan kalimat itu.
Entah mengapa hatinya justru terasa sesak setelah ia menjalankan misinya dengan
baik.
“aku
yakin kau takkan bahagia.” Ucap ayumi sinis lalu pergi meninggalkan heiji.
Heiji
diam, kata-kata ayumi terngiang-ngiang di gendang telinganya. Ia memang tak
akan bahagia karena di lubuk hatinya , ia mencintai ziana. Zia_channya yang
amat manis.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar